Rabu, 11 Mei 2011

MONOKATA

Kupunguti engkau, seperti aku memunguti kata-kata yang berserak di pasar loak itu. Kata-kata yang disuntak dari pembeli yang enggan menambah selembar uang ribuan, pada sebuah buku usang yang tinggal sendirian. Aku mengingatmu dalam setiap tetes keringatmu yang membuatku tak mampu menghapusnya sekalipun mesin pendingin telah menyejukkan kulitmu. Tapi senyummu tapi bingarmu tapi marahmu tapi bijakmu telah menjelma menjadi serbuk lembut yang memburam halaman-halaman buku yang tak hendak kubaca walau kubuka. Dan serbuk lembut itu terhirup oleh hasratku yang kukekang karna malasku.

Aku menyentuh sejukmu seperti ketika kusentuh butir-butir embun di permukaan daun mengkudu. Saat suara lirihmu mencoba membangunkanku di antara suara radio tetangga yang mengalunkan musik ndangdut dan tivi hitam putih yang menyuguhkan wajah ayu dengan berpuluh kalimat berita yang membingungkanku. Aku memenjarakanmu dalam tumpukan portofolio yang kusembunyikan dengan rapat agar mataku tak jalang meradang. Tapi aku selalu gagal menghitung kebaikanmu saat lampu gemerlap mencabikku, saat kakiku menginjak mengilapnya lantai mal, saat laki-laki dan perempuan mempermisifkan bahasa tubuh mereka.

Karena engkau akan ada bagiku bila aku dalam bening sunyi biru.


Tlogopancing, april 2011








PULANG

Ya, ya. Aku mau pulang. Pulang kepada rumah yang memiliki banyak pintu. Pintu pertama menuju sapaan lembut ibu yang selalu setia menyiapkan sepiring nasi putih dengan sayur tahu. Pintu kedua menuju mata wibawa laki-laki tua yang selalu mengawali kalimatnya dengan kata tanya dan diakhiri dengan kalimat berita. Pintu ketiga menuju bilik kamarku yang kusam warna dindingnya, berbau apek tapi aku cinta. Di sana tak ada rumus matematika atau rumus fisika yang membuatku pusing kepala. Di dinding hanya ada pahatan mimpi yang setiap malam kuukir lewat setiap tarikan nafas dan denyut nadiku. Pintu keempat, kelima dan kesekian adalah pintu-pintu yang selalu setia menantiku pulang saat malam telah larut dan tenggelam di balik gerumbul ilalang belakang rumahku. Ya, ya. Aku mau pulang. Pulang kembali kepada senyum ibu, pulang kembali pada wajah muram bapak, pulang kembali pada ruang-ruang berpintu tempat segala nakal dan liarku di masa lalu. Ya, ya. Aku mau pulang.

Tlogopancing, april 2011

Minggu, 09 Januari 2011